Kadang gue ngerasa ada sesuatu
yang nggak sehat
dari aktivitas bos gue dalam beberapa waktu ke belakang ini. Sesuatu yang agak
fishy, agak kejam, dan juga lumayan kejam. Ada sedikit anggapan istilah politik
kantor yang emang kuat dari peristiwa ini.
Bos gue
sudah tua. Secara usia, tenaga, dan ritme hidup, harusnya dia dijaga. Tapi yang
gue lihat justru sebaliknya: dia didandani jadi figur,
dijadikan wajah perusahaan, dipaksa hadir di mana-mana, bikin konten terus,
bahkan sampai dibawa ke luar negeri. Semua dibungkus rapi dengan istilah personal
branding.
Kadang muncul pertanyaan kayak
sebenernya ini keinginan sendiri atau ada pembisik yang emang nargetin si bos
buat mau aja diarahkan, atau mungkin bahasa kasarnya dieksploitasi. Atas dasar
apa si bos mau untuk dijadikan figur? Pernah kebayang kalau dia sendiri yang
menginisiasi. Semoga memang begitu sehingga lebih jujur atas keinginannnya
sendiri. Tapi kayaknya enggak ya. Gue lebih curiga bahwa ada maksud tertentu.
Sekilas keliatan keren.
Inspiratif. Legacy. Khas usaha kuliner yang pakai nama owner di produknya kayak
misalnya Pisang Goreng Bu N, atau Ayam Goreng S. Tapi makin gue perhatiin, rasanya kayak mesin yang dipaksa nyala tanpa henti.
Lagian yah, coba deh cek orang di sekitar. Di usia senja gitu seharusnya bisa
jaga diri, ngurangin aktivitas yang menguras tenaga da pikiran, serta lebih
banyak-banyakin ibadah atau quality time bareng keluarga.
Gue nggak
bisa lepas dari rasa curiga gue bahwa
ini tuh beneran buat kehormatan beliau, atau buat kepentingan orang-orang di sekitarnya?
Apalagi ini perusahaan keluarga.
Yang harusnya paling peka justru sering kali paling buta atau karena terlalu sibuk
mikirin nama besar, ekspansi, dan validasi publik.
Tapi istilah ‘perusahaan keluarga’
juga bisa bermakna lain kalau kita inget betapa banyak masalah keluarga muncul
gara-gara harta. Rebutan warisan adalah kejadian yang paling umum. You got mny
point, right? Gimana kalau ternyata semua ini adalah sebuah upaya untuk
mengambil alih perusahaan dan/atau asset perusahaan? Si bos dibikin capek,
lelah, sampai akhirnya dia drop, sakit, dan lewat. Dengan kondisi kayak gitu,
perusahaan harus terus jalan dan harus ada orang yang ngurusnya. Dan gongnya
adalah sudah sejak lama orang-orang dari keluarga si bos yang kerja atau ada
hubungan di sini. Sampai gua menulis ini pun, yang gua tau ada 4 orang yang
kerja sama dia adalah berasal dari bawaan dan kerabat si bos.
Gue jadi keinget kasus Stan Lee. Bukan karena ceritanya sama persis, tapi karena pola dasarnya mirip:
figur sepuh yang harusnya dilindungi, malah terus ditarik ke panggung,
karena namanya masih laku. Dalam sebuah video yang banyak kesebar bahkan ada
adegan di mana Stan Lee ngerasa jenuh dan capek ketika inner circle-nya masih
mengharuskan dia bekerja sebagai figur.
Terus ini jadi tanggung jawab siapa ya? Apakah kekhawatiran gue
aja yang berlebihan? Mungkin bukan berlebihan ya. Lebih karena gue kayak
ngeliat pola ini karena pernah muncul di kasus-kasus kontroversi dan
konspirasi. Kelak kalau misalnya suatu hari si bos meninggal dengan cara dan
ciri yang serupa, gue gak kaget.
Gue nggak nuduh siapa-siapa.
Gue cuma ngerasa ada sesuatu yang nggak manusiawi tapi dinormalisasi.
Dibungkus profesionalisme, ambisi, dan kata “legacy”.
Semoga aja keresahan ini bukan
apa-apa ya. Dan gue sih berharapnya si bos udahlah nimang cucu aja. Gak usah
jalanin perusahaan. Buat kesehatan semuanya termasuk untuk perusahaan dan karyawannya.

