-->

Senin, 23 Februari 2026

Politik Kantor, Sebuah Upaya Menyingkirkan Seseorang dengan Eksploitasi Citra

 



 

Kadang gue ngerasa ada sesuatu yang nggak sehat dari aktivitas bos gue dalam beberapa waktu ke belakang ini. Sesuatu yang agak fishy, agak kejam, dan juga lumayan kejam. Ada sedikit anggapan istilah politik kantor yang emang kuat dari peristiwa ini.  


Bos gue sudah tua. Secara usia, tenaga, dan ritme hidup, harusnya dia dijaga. Tapi yang gue lihat justru sebaliknya: dia didandani jadi figur, dijadikan wajah perusahaan, dipaksa hadir di mana-mana, bikin konten terus, bahkan sampai dibawa ke luar negeri. Semua dibungkus rapi dengan istilah personal branding


Kadang muncul pertanyaan kayak sebenernya ini keinginan sendiri atau ada pembisik yang emang nargetin si bos buat mau aja diarahkan, atau mungkin bahasa kasarnya dieksploitasi. Atas dasar apa si bos mau untuk dijadikan figur? Pernah kebayang kalau dia sendiri yang menginisiasi. Semoga memang begitu sehingga lebih jujur atas keinginannnya sendiri. Tapi kayaknya enggak ya. Gue lebih curiga bahwa ada maksud tertentu.


Sekilas keliatan keren. Inspiratif. Legacy. Khas usaha kuliner yang pakai nama owner di produknya kayak misalnya Pisang Goreng Bu N, atau Ayam Goreng S. Tapi makin gue perhatiin, rasanya kayak mesin yang dipaksa nyala tanpa henti. Lagian yah, coba deh cek orang di sekitar. Di usia senja gitu seharusnya bisa jaga diri, ngurangin aktivitas yang menguras tenaga da pikiran, serta lebih banyak-banyakin ibadah atau quality time bareng keluarga.


Gue nggak bisa lepas dari rasa curiga gue bahwa
ini tuh beneran buat kehormatan beliau, atau buat kepentingan orang-orang di sekitarnya?


Apalagi ini perusahaan keluarga.
Yang harusnya paling peka justru sering kali paling buta atau karena terlalu sibuk mikirin nama besar, ekspansi, dan validasi publik.


Tapi istilah ‘perusahaan keluarga’ juga bisa bermakna lain kalau kita inget betapa banyak masalah keluarga muncul gara-gara harta. Rebutan warisan adalah kejadian yang paling umum. You got mny point, right? Gimana kalau ternyata semua ini adalah sebuah upaya untuk mengambil alih perusahaan dan/atau asset perusahaan? Si bos dibikin capek, lelah, sampai akhirnya dia drop, sakit, dan lewat. Dengan kondisi kayak gitu, perusahaan harus terus jalan dan harus ada orang yang ngurusnya. Dan gongnya adalah sudah sejak lama orang-orang dari keluarga si bos yang kerja atau ada hubungan di sini. Sampai gua menulis ini pun, yang gua tau ada 4 orang yang kerja sama dia adalah berasal dari bawaan dan kerabat si bos.

 

Gue jadi keinget kasus Stan Lee. Bukan karena ceritanya sama persis, tapi karena pola dasarnya mirip:
figur sepuh yang harusnya dilindungi, malah terus ditarik ke panggung, karena namanya masih laku. Dalam sebuah video yang banyak kesebar bahkan ada adegan di mana Stan Lee ngerasa jenuh dan capek ketika inner circle-nya masih mengharuskan dia bekerja sebagai figur.


Terus ini jadi tanggung jawab siapa ya? Apakah kekhawatiran gue aja yang berlebihan? Mungkin bukan berlebihan ya. Lebih karena gue kayak ngeliat pola ini karena pernah muncul di kasus-kasus kontroversi dan konspirasi. Kelak kalau misalnya suatu hari si bos meninggal dengan cara dan ciri yang serupa, gue gak kaget.


Gue nggak nuduh siapa-siapa.
Gue cuma ngerasa ada sesuatu yang nggak manusiawi tapi dinormalisasi.
Dibungkus profesionalisme, ambisi, dan kata “legacy”.


Semoga aja keresahan ini bukan apa-apa ya. Dan gue sih berharapnya si bos udahlah nimang cucu aja. Gak usah jalanin perusahaan. Buat kesehatan semuanya termasuk untuk perusahaan dan karyawannya.

This Is The Newest Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
This Is The Newest Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner